Harlah ke-73 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Deklarasi Anti Hoaks, dan Penandatanganan MoU Antara Menteri Kominfo RI dengan PP Muslimat NU di Nganjuk

Harlah ke-73 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Deklarasi Anti Hoaks, dan Penandatanganan MoU Antara Menteri Kominfo RI dengan PP Muslimat NU di Nganjuk
178 Kali Dilihat=>>|

YALPK | Nganjuk – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengingatkan Muslimat NU, menangkal hoaks dan ujaran kebencian yang semakin marak beredar di masyarakat. Tidak hanya beredar di perkotaan, tetapi sudah tersebar di perkampungan.

“ Ada hal yang patut diwaspadai meluasnya hoaks dan ujaran kebencian. Contohnya ada ibu-ibu di Jabar dari rumah ke rumah menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian. Yang seperti ini tidak hanya di kota dan ini mengganggu integrasi bangsa,” ujarnya saat menghadiri Harlah ke-73 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Deklarasi Anti Hoaks dan Penandatanganan MoU antara Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI dengan PP Muslimat NU di Depan Masjid Desa Gempol, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Minggu (10/3) pagi.

Salah satu upaya menangkal hoaks dan ujaran kebencian, lanjutnya, adalah dengan melakukan MoU antara Menteri Kominfo RI Rudiantara dengan PP Muslimat NU. Menurutnya, kegiatan ini adalah forum pertama yang diselenggarakan Muslimat NU saat dirinya menjadi Gubernur Jatim. Sekaligus menjadi bentuk kepedulian dari Menkominfo terhadap maraknya peredaran berita hoaks dan ujaran kebencian di perkampungan.

Pada kesempatan yang sama, Menkominfo RI Rudiantara mengatakan, “beredarnya hoaks atau konten negatif ada berbagai macam jenisnya seperti berita palsu, fitnah dan ghibah. Sebagai contoh, yang punya informasi tidak senang, kemudian disebar-sebarkan itu tidak benar. Tak hanya itu, ada juga konten negatif
yang berupa namimah atau sifatnya mengadu domba.

“ Banyak di media sosial yang mengandung konten negatif. Namanya media sosial, seperti pisau yang bisa memotong sayur sebagai hal positif. Juga bisa menjadi hal negatif seperti menyakiti orang lain dengan hoaks, fitnah atau ghibah,” katanya.

Dijelaskan, beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menangkal konten
negatif seperti mengecek sumber informasi, kontennya, serta konteks dan waktunya juga harus dilihat. Sementara itu, Wakil Bupati Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi mengatakan, Muslimat NU sangat luar biasa dari segi kemandirian dan gotong royong. Peran pemerintah membuat masyarakat berdaya, punya kemandirian dan kegotongroyongan. Bersama-sama membangun Nganjuk.

Menurutnya, banyak hal yang bisa dilakukan bersama-sama antara Muslimat NU dan pemerintah. Muslimat NU Kabupaten Nganjuk jangan sampai kalah dengan Surabaya, Sidoarjo. Muslimatnya harus nomor satu. Sehingga apa saja bisa lakukan termasuk pendidikan.

“Mari bersama-sama, Muslimat bisa mengelola pendidikan, mengelola kemandirian. Agar masyarakat semakin berdaya. Membawa Kabupaten Nganjuk yang maju dan bermartabat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU, Kabupaten Nganjuk Sri Minarni Ahmad Muhaimin meminta agar Muslimat NU Kabupaten Nganjuk jangan diam di tempat, harus bersinergi dengan pemerintah di bidang apapun. Seperti narkoba, harus diberantas bersama-sama dengan Muslimat NU agar Nganjuk bebas dari narkoba.

Dalam kegiatan tersebut, telah dilakukan pembacaan naskah Deklarasi Anti Hoaks, Fitnah dan Ghibah oleh PC Muslimat NU Kabupaten Nganjuk. Adapun bunyi ikrar yang disampaikan antara lain pertama menolak hoaks, fitnah dan ghibah yang dapat memicu perselesihan dan perpecahan bangsa. Kedua tidak akan membuat dan menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian, fitnah dan ghibah. Ketiga, membudayakan menyaring sebelum menyebarkan informasi yang diterima.

Keempat, berfikir positif untuk menguatkan ukhuwah dan persatuan bangsa. Selain itu, Gubernur Khofifah dan Menkominfo Rudiantara juga menyerahkan sembako kepada 150 keluarga pra sejahtera.pungkasnya (jf/fr)

Bagikan Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *