Ekowisata Mangrove, Kekuatan Ekonomi Masyarakat

Ekowisata Mangrove, Kekuatan Ekonomi Masyarakat
109 Kali Dilihat=>>|

YALPK | Pontianak – Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai wilayah hutan mangrove terbesar di dunia. Kurang lebih 3,5 juta ha (hektar) mangrove tersebar diberbagai wilayah pesisir di Indonesia.

Dalam hal ini, Kemenko Bidang Kemaritiman diwakili oleh Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Alam, Energi non Konvensional Amalyos melakukan giat peninjauan lapangan pengelolaan mangrove terpadu di Kubu Raya, Pontianak, Kalimantan Barat (09-10-2019).

“Banyak yg bisa kita ambil manfaat dari mangrove salah satunya dengan mendayagunakan ekowisata mangrove. Kontribusi mangrove dalam konteks hasil hutan baik kayu maupun non kayu kepada masyarakat khususnya yg hidup di daerah pesisir sangatlah besar dan dengan mencegah deforestasi mangrove, maka 35% target reduksi emisi dapat dipenuhi” Jelas Asdep Amalyos.

Selain itu Asdep Amalyos juga menjelaskan bahwa daerah mangrove ini dapat menjadi tempat wisata yang bisa ditawarkan baik untuk wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

 

“Dalam hal ini Pemerintah Daerah Kubu Raya dapat berkreasi dengan membuat paket-paket wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan asing ataupun lokal supaya dapat berkunjung kesini, dengan demikian hal tersebut akan memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah dan tentunya diharapkan juga masyarakat sekitarnya dapat lebih sejahtera lagi”, pungkas Asdep Amalyos.

Turut serta Staf Ahli Menteri bidang Sosio-Antropologi Tukul Rameyo menambahkan, pemberdayaan lingkungan seperti hutan mangrove ini erat kaitannya dengan program pemerintah yang salah satunya yaitu dengan tujuan pembangunan berkelanjutan khususnya pada masyarakat pesisir.

“Ini harus digabungkan, jadi tidak hanya keindahan alam pada ekowisata saja, kedepannya bisa digabungkan dengan budaya, kita blend culture dengan nature menjadi sebuah kekuatan ekonomi kreatif”, Jelas SAM Rameyo.

SAM Rameyo juga menjelaskan hutan mangrove dapat membantu sektor pariwisata, dengan pengelolaan yang berkaitan dengan kearifan lokal yang ada disekitar hutan mangrove. ( ir )

Bagikan Berita :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *